Merangkak Menggapai Kebenaran Tuhan

Sudah sering disinggung bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi Khalifatullah (wakil Allah) di muka bumi (Q.S Al-Baqarah 30). Dengan menurunkan manusia pertama di bumi menandakan pendelegasian Allah kepada manusia untuk merawat bumi dimulai. Dan peran Allah dalam merawat bumi diberikan sepenuhnya kepada manusia sebagai sang khalifah, sehingga Allah tidak ikut campur tangan lagi mengurus bumi dan ”meninggalkan” manusia untuk mengurusnya.
Allah akan bertemu dengan manusia kembali selepas bumi dihancurkan (kiamat) dan setelah semua manusia telah dihidupkan kembali. Kembali bertemunya antara Allah dan manusia ini semata-mata untuk melaporkan semua pertanggungjawaban manusia yang telah ia lakukan semasa ia hidup di bumi (Q.S Al-Mudatsir 38) kepada Allah sebagai pihak yang telah mendelegasikan manusia di awal seperti yang telah disebut sebelumnya.
Atas dasar kembali bertemunya Allah dan manusia di akhirat kelak itu lah yang menjadikan manusia senantiasa menyiapkan sebaik-baiknya bekal untuk dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Hanya bagi orang-orang yang berbekal sesuatu kebenaran saja lah yang Allah masukkan ke dalam surga-Nya, adapun sisanya dimasukkan ke neraka. Karena itu manusia senantiasa berlomba-lomba menyiapkan bekal yang baik agar diberi ganjaran surga-Nya.
Dalam mencari bekal yang baik untuk mencapai surga itu dibutuhkan kebenaran versi Allah itu sendiri, bukan kebenaran versi manusia. Masalahnya adalah manusia tidak bisa –jika dikatakan mungkin, setidak-tidaknya sangat sulit– untuk benar-benar mencapai derajat kebenaran Allah yang hakiki tersebut. Pasalnya salah satu bekal manusia dalam mengarungi kekhalifahan manusia di muka bumi, yaitu Alquran untuk masa sekarang ini tidak lagi bisa langsung mengeluarkan kebenaran hakiki dari Allah kepada manusia. Untungnya selain Alquran yang menjadi bekal manusia, Allah memberikan manusia bekal lain. Allah memberikan bekal akal kepada manusia, selain akal manusia juga diberi indera dan intuisi, tidak cukup sampai di situ manusia juga dibekali seorang Rasul yang memberikan contoh dan teladan bagi manusia.
Sehingga yang benar-benar bisa dilakukan oleh manusia adalah berijtihad “merangkak” mencari derajat kebenaran Allah yang hakiki lewat bekal-bekal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia. Bekal-bekal yang telah Allah anugerahkan kepada manusia seperti akal, indera, intuisi dan Rasul digunakan manusia sebagai perangkat untuk mencari kebenaran Allah yang hakiki yang digali di dalam Alquran. Mengingat Alquran ini lah satu-satunya bekal diantara bekal yang lain, yang masih orisinil berasal dari Allah itu sendiri. Maka dalam pencarian kebeneran Allah itu lah manusia menggunakan bekalnya masing-masing. Ada yang berkecenderungan menggunakan akal nya dalam mencari kebenaran Tuhan, atau cenderung menggunakan inderanya, atau intuisinya, atau melalui contoh-contoh yang dilakukan oleh Rasulullah. Kesemuanya itu dilakukan semata-mata untuk satu tujuan yaitu merangkak menggapai kebenaran Tuhan.
Setidaknya dalam penggalian mencari kebenaran Allah di dalam Alquran ini memiliki tiga pendekatan atau metode atau dengan kata lain sudut pandang yang telah lama dikenal dalam studi islam (islamic studies), yaitu


A. Bayani
Secara bahasa bayani merupakan kata yang berasal dari Bahasa Arab al-bayan yang secara bahasa memiliki arti sesuatu yang jauh atau sesuatu yang terbuka. Para ulama tafsir berbeda-beda dalam mengartikan al-bayan itu sendiri. Misalnya al-Alusi menafsirkan bayan dengan fasih berbicara; ar-Razi mengatakan bahwa bayan adalah pandai berbicara sehingga orang lain dapat memahaminya; pun ada juga yang mengartikan bayan adalah nama lain dari Alquran itu sendiri; as-Syaukani berpendapat bayan adalah kebaikan dan keburukan. Dari pendapat-pendapat tersebut bayan erat hubungannya dengan bahasa atau linguistik.
Oleh karena itu Syed Muhammad Dawilah al-Edrus, membedakan antara bayan, lisan, dan kalam. Bayan menurutnya kemampuan mengungkap simbol-simbol yang bersifat umum. Untuk mengungkap simbol-simbol tersebut maka perlu bahasa untuk mengekspresikannya melalui lisan. Sedangkan kalam merupakan suatu pembicaraan antara seorang dengan lawan bicaranya.
Dengan hubungannya dengan menggapai kebenaran Allah di dalam Alquran, bayani merupakan ilmu yang dapat mengeluarkan suatu kondisi yang samar menjadi suatu yang jelas. Dalam epistimologi Islam, bayani merupakan metode pemikiran khas Arab yang bertitik tekan pada ototritas teks (Alquran) secara langsung maupun secara tidak langsung.
Secara langsung metode bayani adalah mamahami teks dalam hal ini teks wahyu sebagai pengetahuan, dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Namun secara tidak langsung bayani berarti memahami teks sebagai pengetahuan mental sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini tidak berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna suatu teks, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Sehingga dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan kepada teks.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendekatan bayani merupakan pendekatan yang melihat teks (nash/dalil) yang ada di dalam sumber ajaran Islam untuk setelanjutnya mengeluarkan nilai yang diyakini merupakan nilai kebenaran yang datang dari Allah. Fungsi akal dalam pendekatan ini hanya sebagai penunjang saja.
Pemakaian pendekatan yang satu ini dalam mencari kebenaran illahiah memiliki kelemahan dan juga kelebihan. Kelemahannya adalah pendekatan ini menimbulkan kejumudan, kemandegan, atau stagnasi dalam penggunaan akal sehingga akal tidak mampu menghadirkan alternatif-alternatif pendapat yang baru, karena peran akal dikalahkan atas peran teks. Namun kelebihan yang dimiliki pendekatan ini adalah sifatnya yang universal, karena objek kajiannya hanya teks yang cenderung tunggal sehingga dapat dikaji oleh semua orang.

B. Burhani
Dalam Bahasa Arab kata burhani berakar kata dengan kata burhan, yang memiliki arti ‘membuktikan’. Jika burhan berarti membuktikan maka burhani dapat diartikan sebagai ‘semua hal yang berkaitan dengan bukti’. Sedangkan secara istilah burhani adalah semua aktifitas penalaran yang bisa menetapkan kebenaran sebuah konsep.
Jika bayani menggunakan teks suci untuk memperoleh kebenaran, maka burhani cenderung menggunakan rasio, akal, penalaran, eksperimen, dan alat inderawi untuk memperoleh kebenaran. Pendekatan burhani tidak puas hanya dengan keterangan yang tertera dalam sumber yang tertulis saja, namun ia berusaha membuktikan keterangan itu dalam tataran realitas yang sebenarnya. Oleh karena itu pendekatan ini menggunakan akal dan segala perangkatnya yang ada dalam diri manusia.
Dikarenakan menggunakan akal pemikiran manusia pendekatan ini memiliki kelebihan, yaitu dapat menghasilkan alternatif-alternatif pemikiran yang cenderung baru. Oleh karenanya pendekatan ini jauh lebih dinamis dan dapat lebih adaptif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi. Artinya kebenaran menurut pendekatan ini tidak sama pada semua waktu dan semua kondisi. Di sisi lain pendekatan ini memiliki kekurangan. Karena penggunaan akal yang mendominasi pendekatan ini maka jika pendekatan ini digunakan secara berlebihan akan mengakibatkan pemikiran sebebas-bebasnya.


C. Irfani
Kata irfani secara bahasa memiliki arti mengetahui sesuatu dengan berpikir secara mendalam. Secara istilah memiliki makna pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh melalui pancaran sinar-sinar illahiah dari Tuhan kepada hambanya setelah melalui tahapan tertentu.
Pendekatan ini beranggapan bahwa pengetahuan yang bersifat lahiriah harus dipadu dengan pengetahuan batiniah. Bahkan jika kedua pengetahuan ini dipadukan maka akan mendekati kebenaran yang hakiki.
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang unik. Jika dua pendekatan sebelumnya memiliki medium (perantara) dalam mencari kebenaran yang hakiki, namun pendekatan ini tidak memiliki medium itu. Pelaku dari pendekatan ini mencoba untuk mengetahui kebenaran langsung dari sumber kebenaran itu sendiri yaitu Tuhan.
Seorang hamba menurut pendekatan ini bisa saja mendapat kebenaran hakiki langsung dari Tuhan melalui pancaran-pancaran illahiah yang dipancarkan oleh Tuhan, namun sebelum menerima pancaran-pancaran illahiah itu terlebih dahulu seorang hamba harus membersihkan dirinya dari segala kekotoran untuk pantas menerima pancaran tersebut. Pendekatan ini biasanya dijalankan oleh kelompok-kelompok sufistik di dalam Islam.
Maka sudah jelas bahwa titik tekan pada pendekatan ini adalah sisi intuitif para pemakainya untuk mendapatkan kebenaran Tuhan yang sebenar-benarnya tanpa melalui perantara apapun. Yang dibutuhkan dalam pendekatan ini adalah derajat kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Semakin dekat ia, maka semakin besar pula kemungkinan ia untuk mendapat kebenaran dari Tuhannya.
Karena didasarkan atas cinta dari hamba kepada Tuhannya itu, maka pendakatan ini diyakini bisa mendapat kebenaran yang substantif dari Tuhannya. Ini lah yang menjadi kelebihan pendekatan ini daripada pendakatan yang lain. Namun kekurangan pendekatan ini adalah setiap orang tidak sama derajat kedekatannya dengan Tuhan, sehingga kebenaran yang diperoleh oleh setiap individunya pun akan berbeda satu sama lain.

Tiga Dasar Pemahaman dalam Ajaran Islam

  1. Tauhid

Pertanyaan dari mana kita berasal, jika dijawab oleh orang-orang materialis (Al-Baqarah 41) mereka akan mengatakan bahwa kita (manusia) dan alam semesta beserta seisinya ada dengan sendirinya. Mereka tidak meyakini bahwa ada pencipta yang menciptakan manusia dan alam semesta beserta isinya. Perkataan mereka yang seperti ini dapat dilihat dalam quran surat At-Thur ayat 35. Ketidakperceyaan mereka terhadap sosok sang pencipta tidak lain karena sosok tersebut tidak dapat diterima oleh sistem inderawi manusia.

Berbeda dengan orang materialis, orang yang beriman dan orang musyrik jika dilontarkan dengan pertanyaan yang sama mereka akan menjawab bahwa manusia dan alam semsesta beserta isinya semuanya diciptakan oleh sosok pencipta yaitu Allah SWT. Tapi letak perbedaan antara orang musyrik dan orang beriman adalah, orang musyrik tidak mau mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang patut disembah (lihat Q.S Yunus ayat 10). Dan bagi orang yang beriman, selain mengimani bahwa Allah adalah Tuhan yang patut disembah, mereka juga menganggap manusia dan alam beserta isinya merupakan sebuah ‘akibat’ yang mana akibat selalu menyertai bersamaan dengan ‘sebab’. Bahkan jika manusia dan alam beserta isinya ada, namun mengingkari keberadaan Tuhan, hal itu juga telah menabrak fitrah logika manusia itu sendiri karena berkeyakinan ada sebab tanpa akibat.

Orang yang beriman beranggapan demikian karena di dalam hatinya dikenal sesuatu yang disebut dengan iman (kepercayaan) kepada Allah dan menjadikannya sebuah aqidah dalam kehidupan orang beriman. Adapun pengertian Aqidah menurut Gustave Le Bon (Prancis) dan Hasbi Ash-Shiddieqy (Indonesia) sebagai berikut.

Menurut Gustave Le Bon dalam kitabnya Al-Araa’ wal Mu’taqadat aqidah adalah keimanan yang tumbuh dari suatu sumber yang tak dapat dirasakan yang memaksa manusia mempercayai sesuatu ketentuan tanpa dalil[1]. Sedangkan menurut Hasbi Ash-Shiddieqy yang dimaksudkan dengan aqidah ialah pendapat dan fikiran atau panutan yang mempengaruhi jiwa manusia, lalu menjadi sebagai suatu suku dari manusia sendiri, dibela, dipertahankan, dan diitiqadkan bahwa hal itu adalah benar. Harus dipertahankan dan diperkembangkan[2].

Masih menurut Gustave Le Bon, aqidah memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, sebagaimana raga yang perlu asupan nutrisi melalui makanan. Ruh juga membutuhkan asupan nutrisi, aqidah menjadi asupan nutrisi bagi keberlangsungan ruh. Artinya aqidah menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Manusia menurut Le Bon tidak akan bisa benar-benar meninggalkan aqidah, akan tetapi hanya berpindah dari aqidah yang satu ke aqidah yang lain.

Kedua, melihat pengertian aqidah di atas yang menjadikan aqidah sebagai ‘penguasa’ alam berpikir dan keyakinan bagi para penganutnya. Maka ketika penganutnya tersebut bekerja atau melakukan kegiatan yang berdasar kepada aqidah yang ia anut, ia akan bekerja dengan kesungguhan yang sungguh-sungguh. Sebaliknya, jika yang ia lakukan tidak berdasar aqidah yang ia anut, maka ia akan selalu lesu dalam melakukannya.

Begitulah aqidah secara umum, adapun aqidah di dalam Islam adalah Tauhid. Yang mana arti Tauhid ini adalah bentuk pengesaan terhadap Allah. Tidak ada yang patut disembah selain Allah, Allah adalah zat tunggal yang harus diimani –Laa ilaha illa Allah–. Walaupun Tauhid pada awalnya tidak hanya untuk agama Islam (berlaku juga untuk agama samawi yang lain), namun sampai saat ini hanyalah Islam yang beraqidahkan Tauhid.

2. Ibadah

Jika ditanya untuk apa manusia diciptakan, mungkin orang-orang kafir akan mengatakan manusia diciptakan untuk menikmati dunia. Tidak ada hidup setelahnya, manusia yang telah mati akan sama-sama menjadi bangkai di dalam bumi atau menjadi abu dibawa angin. Derajat orang yang meninggal akan sama antara manusia yang senantiasa berbuat baik selama hidupnya dan manusia yang senantiasa tidak berbuat baik selama hidupnya. Maksudnya, kehidupan ini tidak memiliki arti setelah manusia itu mati (lihat Q.S As-Shaad : 27).

Namun tidak begitu jika pertanyaan itu dilontarkan kepada orang-orang yang beriman. Mereka akan mempersiapkan kehidupan di dunia sebaik mungkin untuk bekal di akhirat (lihat Q.S Al-Mu’minun : 115). Namun terlepas dari itu, Alquran telah menyebutkan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi Q.S Al-Baqarah : 30, dan salah satu intstrumen kekhalifahan manusia di muka bumi adalah untuk beribadah kepada Allah Q.S Adz-Dzariyat : 56.

Dalam bahasa Arab ‘ibadah sering diakar katakan dengan kalimat ‘abada yang artinya hamba atau budak. Dalam bahasa Indonesia, kalimat ini dekat dengan kata abdi. Sedangkan dalam kamus Bahasa Indonesia, ibadah sendiri memiliki arti perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah SWT., yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dari pengertian di atas dapat diambil poin penting bahwa ibadah merupakan sebuah bentuk penghambaan, dari seorang yang derajatnya rendah terhadap seseorang/sesuatu yang derajatnya paling tinggi. Dalam hal ini manusia atau umat Islam sebagai pemilik derajat yang rendah (Q.S At-Tiin), dan Allah yang memiliki derajat paling tinggi.

Kegiatan penghambaan makhluk terhadap Tuhannya ini, merupakan konsekuensi logis manusia setelah sebelumnya bersaksi (bertauhid) mengakui tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Maka dalam praktik penghambaan manusia terhadap Allah, idealnya selalu diikuti dengan rasa cinta, takut, dan berharap terhadap-Nya.

3. Muamalah

Di bagian ibadah di atas telah dijawab pertanyaan ke dua bahwa tujuan manusia diciptakan ke dunia adalah untuk menjadi Khalifah di muka bumi yang salah satu tugasnya adalah beribadah. Namun, selain beribadah manusia sebagai khalifah di muka bumi juga bersinggungan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan. Oleh karena itu tugas kekhalifahan manusia yang tak kalah penting dari ibadaha adalah ditugaskan untuk merawat bumi dengan baik. Merawat bumi yang dimaksud di pembahasan ini bukan sekadar merawat bumi dari sudut pandang ekologis, tapi yang dimaksud merawat bumi juga termasuk mengelola, memanfaatkan, dan berinteraksi dengan bumi dan segala isi nya termasuk juga manusia di dalamnya. Atau dengan kata lain membangun peradaban di bumi.

Dalam tugas kekhalifahan ini lah terdapat konsep yang di dalam Islam disebut Muamalah.  Adapun kata muamalah berasal dari kalimat ‘amala dalam Bahasa Arab yang memiliki arti melakukan.

Ruang lingkup kajian muamalah di dalam hukum islam klasik antarra lain meliputi jual beli, pernikahan/munakahat, dan kewarisan. Namun seiring perkembangan zaman muncul bahasan-bahasan muamalah yang lain seperti siyasah atau politik, kepemimpinan, perbankan, perlindungan anak dan perempuan, bahkan pengelolaan air.

Melihat ruang lingkup muamalah yang memiliki banyak interaksi dengan manusia, maka di dalam muamalah ada akhlaq. Adapun akhlaq secara bahasa akhlaq berasal dari kata khalaqa yang artinya menciptakan (khaaliq artinya pencipta). Dikarenakan berasal dari kata yang dalam arti bahasa Indonesia adalah menciptakan, dalam bahasa Indonesia kata akhlaq sejajar dengan tabiat atau watak. Karena akhlak merupakan tabiat, maka akhlak tidak bisa dibuat-buat. Secara Istilah akhlak adalah apa yang diucap dalam lisan, dipikir dalam hati dan pikiran, dijalankan dengan tindakan. Jika ketiga unsur ini tidak lengkap maka tidak bisa disebut akhlak.

Berikut secara ringkas perbedaan antara ketiganya

KarakteristikAqidah / TauhidIbadah / SyariatAkhlak / Muamalah
SifatEksklusifEksklusifInklusif
OrientasiTransendenTransendenProfan
Kaidah”Semua dilarang kecuali yang boleh””Semua dilarang kecuali yang boleh””Semua boleh kecuali yang dilarang”
DalilQ.S Al-IkhlasAdz-Dzariyat : 56 Al-Baqarah: 21Al-Baqarah: 177 Innama bu’itstu liutami makaarimal akhlaq (H.R Bukhari)
Cara PandangTekstualTekstualKontekstual
OutputTidak SyirikMenambah Ketakwaanberbuat baik
ImplementasiRukun Iman + syahadatRukun Islam (minus Syahadat)Perilaku (Akhlak Terpuji dan Akhlak Tercela)

[1] Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, 1973, hlm. 43

[2] Ibid., hlm. 42

Pelantikan dan Pengajian Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Wangon

Menutup penghujung tahun Masehi 2019 dengan memulai periode baru merupakan langkah awal yang diambil oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Muhammadiyah Wangon. Meresmikan kepemimpinan baru yang diamanahkan dengan pelantikan merupakan syarat yang wajib dipenuhi oleh setiap pimpinan, baik ranting, cabang, daerah, maupun seterusnya.


Oleh sebab demikian, PC IPM Wangon menggelar acara Pengajian Akbar sekaligus meresmikan pimpinan dengan diadakannya Pelantikan PC IPM Wangon, pada hari Ahad , 3 Jumadil awal 1441 H, bertepatan dengan 29 Desember 2019.

Acara yang digelar di Balai Aisyiyah Wangon ini bertemakan “Pentingnya Ikrar Pelantikan, dan mengundang PCM , PCA, PCNA, Ustadz Daryanto S.Pd,PD IPM Banyumas, anggota PC IPM se Banyumas dan lain sebagainya.

Menurut Ipmawati Anas Isnaeni selaku ketua PC IPM Wangon periode lalu ” Jika sudah berjuang di jalan Allah, maka Allah pasti mudahkan”. Penyampaian yang begitu lugas akan adanya pertolongan Allah bagi setiap Jiwa yang menanam kebaikan di jalan-Nya. “Saatnya untuk memulai hari baru, Semoga IPM Wangon bisa lebih baik dan diharwapkan menjadi pelajar yang meneruskan pejuang bangsa. Karena kita adalah pemimpin di masa depan.” Ujar Ipmawan Steven Budiantoro dalam menggelorakan dan menularkan harapannya kepada teman sepimpinannya.
Wangon merupakan cabang yang paling selatan yang dipimpin oleh PD IPM Banyumas, namun meski demikian, tak menyurutkan langkah ipmawan Fauzan Nur Hidayatullah selaku ketua PD IPM Banyumas dalam menyampaikan 4 poin penting yang dibawa nya yaitu; pelajar Muhammadiyah yang Berdakwah, Berliterasi, Berprogress dan Berkemajuan.
Ustadz Daryanto S. Pd sendiri mengatakan bahwa “Betapa Rapuhnya shof kita. Ini ada sesuatu yang salah, umat islam sedang dipojokkan. Kader adalah Ruhnya organisasi , maka apresiasi untuk para ayahanda dan ibunda yang masih peduli pada perkaderan terutama di IPM. Sebagai kader inti, mari kita renungkan bagaimana kita memberikan kebahagiaan yang terbaik karena kita adalah umat terbaik. “
Berapa banyak pula orang yang ditolong oleh Muhammadiyah , namun Muhammadiyah dituduh tidakpancasilasis, tidak NKRI. Maka dari itu, besar harapan kepada seluruh pemuda jaman ini agar memperjuangkan amanahnya dengan baik, dan nama Muhammadiyah nantinya. Tentu akan ada banyak ATHG (Ancaman, Tantangan, Hambatan, dan Gangguan. Maka dari itu, yang telah diberi amanah harus di tunaikan sampai tuntas.